
Titin
BUNGA JALANAN
banjarbaru, 2008-04-21



Kambang Culan
Sasangkutan kakamban habang
Taungut rindu manangis malihat kakamban
Kakamban nang habang
………………………………………..
………………………………………..
Kambang culan, demikianlah namaku yang selalu menjadi pujaan bagi putri remaja
banjar. Aku, suntingan kalbu penghias sanggul anak babangsa. Penatah rias pelaminan. Aku, kembang pewangi air mandi – mandi pengantin wanita, mandi badudus dan banyak lagi digunakan pada acara – acara adat tanah banjar. Dan aku, dimanja dan disanjung, dirangkai menjadi sebuah lyrik dendang lagu yang romantis dan melankolis. Ah, semua itu hanya tinggal kenangan. Sirna dimakan jaman. Orang – orang Banjar sudah melupakan adat pusaka peninggalan nenek moyangnya. Anak cucu tidak mengenal lagi apa itu namanya kembang culan. Tak ada lagi tumbuh atau ditanam di pekarangan rumah bubungan tinggi. Dan lebih menyakitkan lagi orang – orang juga tak mengenal lagi rumah bubungan tinggi. Ah, mencemaskan sekali. Melihat bangunan rumah, perkantoran atau bangunan lainnya yang tak ramah dengan lingkungan. Arsitek – arsiteknya banyak import dari negara barat. Duhai, aku merindukan arsitek tradisional yang begitu akrab dengan lingkungannya dan berhias kembang culan.
banjarbaru,08

Titin
Aku berjalan – jalan di sebuah hutan. Hutan yang sepi. Sunyi. Hanya terdengar dengungan nyamuk. Sesekali terdengar kelepak sayap burung murai melintas awan. Ceracau ayam hutan sesayup di bawah lembah. Monyet – monyet di pepohonan mengintip di balik rerimbun daun. Aku terus juga berjalan pada sebuah jalan setapak. Udara sejuk dan nyaman. Mataku berpendar keseluruh kisi hutan yang begitu indah. Damainya suasana di sini, jauh dari polusi dan kontaminasi, gumamku. Di tepi sebuah sungai aku berhenti dan duduk sambil melepas lelah. Sungai mengalirkan airnya yang jernih seperti kaca. Ketika asyik mataku menyusuri tepi sungai, tiba – tiaba aku
terpesona pada sekuntum bunga. Bunga yang anggun mempesona.Elok nian. Dari parasnya harum mewangi. Cantik alami. Tak terasa kembali aku bergumam. Wahai banyak orang berparas cantik namun penuh dusta oleh segala parfum dan kosmetika. Aku mendekat. Kuntum itu menyambutku dengan kelopak senyum yang ramah. Hatiku jadi sejuk dan tentram. Aku berkata : Wahai siapa gerangan bunga yang elok ? Dengan segenap santun, bunga itu menjawab : Insan rimba memanggilku bunga “ mirabilis ”. Sungguh nama yang pantas diberikan padanya sesuai dengan keelokkannya. Oh mirabilis. Ia menari – nari diusap angin semilir, sungguh gemulai. Mirabilis.Sebuah kata yang memukau dan memikat hasratku agar aku selalu disini. Dan, duhai memang sepertinya aku tak akan pernah meninggalkan keelokan ini. Aku benar – benar tak mau berpisah ..... mirabilis.
banjarbaru, 08

Titin
Kadang diseret ombak jauh ke kaki langit
Kadang dilontarkan ketengah-tengah tak bertepi
Kupandangi mega – mega yang berarak
Kupandangi awan – awan yang memutih
Kupandangi langit membiru
Layar terus kukembangkan
Bungaku terus kumekarkan
Tuhan
Andaipun bahteraku akan karam di lautan problemaku
Karamkanlah di lautan kasih sayangmu
banjarbaru, 08

Titin
Setangkai anggrek tumbuh di taman hatiku
Setiap saat kusiram dengan cinta
Waktu pagi ketika surya menebar cahya
Ia menari gemulai di usap angin
Setangkai anggrek
Senyumnya selalu menghapus dukalaraku
Sekejap pun tak pernah terpisah denganku
Wanginya tak lepas dari napasku
Dikala malam aku tak pernah hampa
Anggrekku selalu mekar dalam mimpi - mimpiku
Setangkai anggrek tumbuh di taman hatiku
Setiap saat kusiram dengan cinta
banjarbaru, 08

Titin
Kala malam merebak dingin
Menyeruk-nyeruk binatang malam
Ke bawah rimbun dedaunan
Mendesis – desis angin
Berpendar kencang di balik – balik malam
Jangkrik menyembunyikan kriknya
Ke lubang-lubang tanah
Angin terus menderu tak henti-henti
Malam semakin temaram
Di sebuah taman yang sunyi sepi
Ada jeritan panjang
Setangkai bunga tergeletak di sana
Telanjang tanpa bermahkota lagi
Duhai bunga itu telah rontok kelopak-kelopaknya
Rontok sebelum berkembang
banjarbaru, 08