Hai ! Salam jumpa. Makasih ya Anda mengunjungi taman bunga saya

Senin, 21 April 2008

BUNGA JALANAN



Titin


BUNGA JALANAN

Pagi yang cerah.Sinar matahari yang berpijar dari arah timur, menyilaukan mataku. Pagi itu aku berolah raga lari – lari kecil. Kuhirup udara sejuk, segar. Indahnya pepohonan yang berbaris di sepanjang jalan. Aku terus mengayunkan kakiku. Tak terasa jauh sudah dari kawasan tempat tinggalku. Napasku pun mulai tak beraturan... Tiba – tiba aku tercengang pada sisi jalan, lalu berhenti. Amboi cantiknya kau bunga terompet. Warnamu ungu berseri. Indah gemulai tangkaimu. Walau kau seperti anak jalanan tapi parasmu tak kalah dengan bunga – bunga yang ada di rumah mewah itu. Kau tumbuh berkembang alami. Tidak seperti mereka, kecantikan yang dipoles dengan alat – alat kosmetika dan segala farpum dan di taruh di pot – pot mahal. Aku suka cara hidupmu bunga terompet, menghiasi jalan. Keindahanmu membuat kotaku jadi berseri, indah, damai dan nyaman. Akh, aku jadi sering melintasimu setiap aku melemaskan seluruh urat nadi tubuhku manakala cahaya pagi menebar aroma wangi wajahmu.


banjarbaru, 2008-04-21

BUNGA SEDAP MALAM





Titin

BUNGA SEDAP MALAM

Lonceng menara berdentang
Lolong serigala merontoktan bulu kuduk
Suara – suara itu memecahkan
lenganganya malam

Lembut angin menyelimuti tubuhku
Tertatih aku menyusuri lembah malam
Bulan – bintang di atas sana sebagai
lentera malamku

Lamunanku terkembang syahdu
Menyerap aroma di sekitarku
Akh ... kau bunga sedap malam
Kau menggodaku ... kau cantik dan lucu

Kelakarmu membuat ku terjaga
Terjaga dalam kesunyian ini
Kau slalu ada disetiap ku terpaku
Luruh malamku bersamamu


banjarbaru,2008

Senin, 31 Maret 2008

Duka Kembang Culan



Titin



Kambang Culan

Sasangkutan kakamban habang

Taungut rindu manangis malihat kakamban

Kakamban nang habang

………………………………………..

………………………………………..

Kambang culan, demikianlah namaku yang selalu menjadi pujaan bagi putri remaja

banjar. Aku, suntingan kalbu penghias sanggul anak babangsa. Penatah rias pelaminan. Aku, kembang pewangi air mandi – mandi pengantin wanita, mandi badudus dan banyak lagi digunakan pada acara – acara adat tanah banjar. Dan aku, dimanja dan disanjung, dirangkai menjadi sebuah lyrik dendang lagu yang romantis dan melankolis. Ah, semua itu hanya tinggal kenangan. Sirna dimakan jaman. Orang – orang Banjar sudah melupakan adat pusaka peninggalan nenek moyangnya. Anak cucu tidak mengenal lagi apa itu namanya kembang culan. Tak ada lagi tumbuh atau ditanam di pekarangan rumah bubungan tinggi. Dan lebih menyakitkan lagi orang – orang juga tak mengenal lagi rumah bubungan tinggi. Ah, mencemaskan sekali. Melihat bangunan rumah, perkantoran atau bangunan lainnya yang tak ramah dengan lingkungan. Arsitek – arsiteknya banyak import dari negara barat. Duhai, aku merindukan arsitek tradisional yang begitu akrab dengan lingkungannya dan berhias kembang culan.

banjarbaru,08

ADA SEKUNTUM BUNGA MIRABILIS NAMANYA






Titin



Aku berjalan – jalan di sebuah hutan. Hutan yang sepi. Sunyi. Hanya terdengar dengungan nyamuk. Sesekali terdengar kelepak sayap burung murai melintas awan. Ceracau ayam hutan sesayup di bawah lembah. Monyet – monyet di pepohonan mengintip di balik rerimbun daun. Aku terus juga berjalan pada sebuah jalan setapak. Udara sejuk dan nyaman. Mataku berpendar keseluruh kisi hutan yang begitu indah. Damainya suasana di sini, jauh dari polusi dan kontaminasi, gumamku. Di tepi sebuah sungai aku berhenti dan duduk sambil melepas lelah. Sungai mengalirkan airnya yang jernih seperti kaca. Ketika asyik mataku menyusuri tepi sungai, tiba – tiaba aku

terpesona pada sekuntum bunga. Bunga yang anggun mempesona.Elok nian. Dari parasnya harum mewangi. Cantik alami. Tak terasa kembali aku bergumam. Wahai banyak orang berparas cantik namun penuh dusta oleh segala parfum dan kosmetika. Aku mendekat. Kuntum itu menyambutku dengan kelopak senyum yang ramah. Hatiku jadi sejuk dan tentram. Aku berkata : Wahai siapa gerangan bunga yang elok ? Dengan segenap santun, bunga itu menjawab : Insan rimba memanggilku bunga “ mirabilis ”. Sungguh nama yang pantas diberikan padanya sesuai dengan keelokkannya. Oh mirabilis. Ia menari – nari diusap angin semilir, sungguh gemulai. Mirabilis.Sebuah kata yang memukau dan memikat hasratku agar aku selalu disini. Dan, duhai memang sepertinya aku tak akan pernah meninggalkan keelokan ini. Aku benar – benar tak mau berpisah ..... mirabilis.

banjarbaru, 08

BAHTERA BUNGA


Titin



Hidup terombang – ambing di tengah lautan maha luas

Kadang diseret ombak jauh ke kaki langit

Kadang dilontarkan ketengah-tengah tak bertepi

Kupandangi mega – mega yang berarak

Kupandangi awan – awan yang memutih

Kupandangi langit membiru

Layar terus kukembangkan

Bungaku terus kumekarkan

Tuhan

Andaipun bahteraku akan karam di lautan problemaku

Karamkanlah di lautan kasih sayangmu

banjarbaru, 08

SETANGKAI ANGGREK









Titin



Setangkai anggrek tumbuh di taman hatiku

Setiap saat kusiram dengan cinta

Waktu pagi ketika surya menebar cahya

Ia menari gemulai di usap angin


Setangkai anggrek

Senyumnya selalu menghapus dukalaraku

Sekejap pun tak pernah terpisah denganku

Wanginya tak lepas dari napasku



Dikala malam aku tak pernah hampa

Anggrekku selalu mekar dalam mimpi - mimpiku

Setangkai anggrek tumbuh di taman hatiku

Setiap saat kusiram dengan cinta



banjarbaru, 08

RONTOK SEBELUM BERKEMBANG


Titin



Kala malam merebak dingin

Menyeruk-nyeruk binatang malam

Ke bawah rimbun dedaunan

Mendesis – desis angin

Berpendar kencang di balik – balik malam

Jangkrik menyembunyikan kriknya

Ke lubang-lubang tanah

Angin terus menderu tak henti-henti

Malam semakin temaram

Di sebuah taman yang sunyi sepi

Ada jeritan panjang

Setangkai bunga tergeletak di sana

Telanjang tanpa bermahkota lagi

Duhai bunga itu telah rontok kelopak-kelopaknya

Rontok sebelum berkembang

banjarbaru, 08